Sunday, August 11, 2019

"Ilmu 11 Jam 14 Km"

 

Kabupaten Sumba Timur yang beribukotakan Waingapu menjadi salah satu daerah catatan perjalanan berharga.

  Daerah ini memiliki beberapa Kecamatan.
Kecamatan Nggaha Ori Angu atau yang disingkat Nggoa menjadi 1 diantara 22 daftar nama kecamatan. Di Kecamatan Nggoa terdapat 13 desa, salah satunya ialah Desa Makamenggit, desa yang saya tempati. Di desa ini terdapat 4 dusun.

  Ada SD terdekat di tempat saya,  iya dekat desa saya,  maksudnya desa sebelah,  Desa Tanatuku, bukan di Desa Makamenggit. Itu yang terdekat (kira-kira 2,5km) . Lalu di desa saya ? Ada tapi sangat jauh, tepatnya di dusun 4. Jaraknya dari tempat saya ialah kira-kira 7 Km. Kalau pulang-pergi 14 Km sehari (jalan kaki).  Rutenya cukup panjang menempuh bukit-bukit,  jurang yang terjal ,dan jalan rusak,  ditambah panas terik yang menusuk,   syukur kepada pemandangan hamparan padang sabana yang membentang , setidaknya dia yang m enemani. Namanya SDN Bidiwai. Ini SD,  bukan SMP,  bukan SMA. Dan rata-rata anak berusia 6-11 tahun yang bersekolah disini.  Usia ini, melewati ini,  bersekolah disini.

 Terlepas dari deskripsi diatas,  potret ini mengambarkan 2 orang anak lelaki yang baru saja pulang sekolah pukul 13.00 wita.    Sendal jepit,  tas dan seragam cukuplah untuk mereka.  Foto ini saya ambil dari atas bukit ketika mendata profil desa di dusun 4. Saya pergi dari pukul 9 pagi dan pulang pukul 8 malam.  1 jam untuk istirahat sembari makan siang di rumah kepala dusun 4. 2  jam untuk mendata seluruh KK di dusun 4, dan 8 jam ialah waktu yang saya habiskan di perjalanan (jalan kaki).  Bila perhitungan waktu yang saya lakukan bisa membuat saya menangis,  maka terlalu berlebihan jika dibandingkan dengan anak-anak yang bersekolah di tempat ini , 6 hari seminggu dengan jarak yang sama. Menjadi pembelajaran berharga untuk saya selama berada di "tempat pengasingan ini" . Kalau di Kupang saya masih bisa naik angkutan umum,  disini saya jalan kaki.  Benar-benar jalan kaki. Jadwal kuliahpun tak sampai 6 hari.

  Setelah semua hal diatas dinarasikan, masihkah saya tak bersyukur?  Masihkah tak semangat mencari ilmu? Masihkah malas? Sangat naif bila saya berkata "masih".

  Sekolah memang tak mutlak membuat orang sukses,  tapi dengan sekolah orang dapat mengetahui apa yang tak diketahui. Begitu asal mulanya sekolah diadakan.  Sukses merupakan penerapannnya saja. Contohnya disekolah mengajarkan apa itu rajin.  Setelah dia paham rajin,  dia berhenti sekolah , lalu menerapkan rajinnya itu dikehidupannya. Akhirnya dia sukses walaupun sudah berhenti sekolah.


  Jadi disini, Sukses merupakan "dampak eksternal" . Setidaknya sekolah memberikan dasar penting bagi kehidupan, memberikan apa arti makhlup hidup.

  Dalam tulisan ini,  saya tak mau memojokan bebebapa pihak yang bertanggung jawab atas pembangunan di negeri ini. Bukan.  Sayapun tak menyudutkan. Terlalu luas bila saya berbicara ini itu, dan membicarakan semua itu cukup membuat saya pening. Hengkang dulu dari kepelikan itu,  dari permasalahan-permasalahan , ternyata ada arti tersirat yang terselip untuk saya.

   Untuk 2 orang anak kecil ditengah himpitan bukit dan padang sabana,  ada seseorang yang memotret kalian, yang mendapat sebuah arti perjalanan kehidupan.  Tentang semangat,  tentang perjuangan, tentang senyuman. Seseorang itu ialah saya,  Adriana R. D. W. Ngailu , salah satu Mahasiswa KKN UNDANA 2019.
Terima kasih untuk kalian.

Makamenggit (Agustus 2019)

2 comments:

  1. KEREN AJENG... TERUS BERKARYA.. TUHAN YESUS MEMBERKATI. SY TERSENTUH SEKALI

    ReplyDelete

Lengkara

                  Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesa...