Sinar matahari belum menyentuh dinding luar rumah, angin masih menari pelan memasuki rongga-rongga ruangan. Angin menari kegirangan, tapi saat dilihatnya ada satu tubuh di pojok kamar yang sedang melamun maka dengan cepatlah ia begerak, berlari kesetanan, menusuk dan menjadi pembunuh. Seketika tubuh tak berdaya, ia meraung kesakitan. Tubuh itu dibunuh oleh angin rindu.
Hari ini tanggal 9, genap sudah 3 tahun tubuh itu tak berjumpa dengan pasangannya. 596 Mil jarak terbentang untuk memisahkan dua tubuh yang sama-sama sedang berusaha mendapatkan secuil rasa tahu. Tubuh itu mulai bosan, bukan bosan dengan sifat pasangannya, bukan bosan juga dengan waktu dan jarak, tapi tubuh itu bosan dengan dirinya sendiri. Terlalu cepat merasa sendiri, terlalu cepat merindu, terlalu mudah untuk dibunuh angin rindu. Ujung-ujungnya dia yang mati tersiksa. Kini tubuh hanya bisa mengutuki dirinya yang lemah dan semua itu membuatnya membenci angin rindu. Jauh dilubuk hatinya, ia hanya mau berhenti menahan beban, dia mau kuat.
Setelah waktu berlalu, sedikit sinar matahari sudah menyentuh rumah hingga jendela kamar. Tubuh lalu bangkit. Ia mengumpulkan kekuatan untuk hengkang dari pojokan kamar. Dicarilah cara untuk membunuh angin rindu itu. Awalnya memang menguras tenaga, tapi setelah dilakukan ternyata berhasil, kini angin itu mendapat mendapat pembalasan, angin tak menari lagi, tak membunuhnya lagi. Angin sudah mati.
Kau takkan menyadari bahwa cara yang dipilih tubuh cukup mudah namun sadis dan mematikan.
Tubuh itu pergi menemui pasangannya.
Hei Bung, jangan berpikir terlalu keras. Bila kau rindu yah 'bertemu' saja. Hari ini masih tanggal 9 di tahun 2020 belum di tahun 2021. Kau tahu, tahun 2021 tak mengizinkan kau terus tersiksa dan mati terbunuh oleh angin rindu. Sudah, 'bertemu' saja.
Kupang, 9 Desember 2020
Adriana Ajeng Ngailu

No comments:
Post a Comment