Tuesday, December 15, 2020

Surat Cinta Tak Bertuan

     


     Hari ini 14 Desember 1883, tidak ada hujan di kota. Air langit tidak membasahi segala pohon pinus yang berjejer di sepanjang jalan. Kering. Tidak ada hiruk pikuk hingga sepinya menusuk sampai ke tulang. Ini kota yang hampir mati. Banyak penduduk yang sudah pergi. Mereka pergi meninggalkan kenangan dan perasaan. Mereka hilang dengan dengan sesuatu yang hanya dimiliki seorang manusia. Kota yang hanya ditinggali beberapa manusia. Mereka memilih bertahan, bukan karena pasokan gandum dan kentang dari beberapa desa sekitar masih banyak, bukan karena ciri khas ramuan anggur dari kota itu yang begitu nikmat, bukan. Tapi, karena kota itu memiliki aturan yang mengikat di setiap diri penduduk aslinya dan sudah mendarah daging; Bila tak temukan, kembalilah.

     Cahaya lampu jalan yang remang membantu menuntun serangga malam untuk mencari asupan. Mereka berlomba-lomba untuk membahagiakan perut, ramai dan berisik, sangat berbanding terbalik dengan rumah yang ada di sudut jalan. Sebuah rumah sederhana dan tenang. Di kamar atapnya ada lampu eglare pinno berwarna kuning pastel yang masih menyala menerangi seisi ruangan. Tampak seorang wanita usia paruh baya duduk bersandar di kursi bergaya fauteuil. Ia mengenakan piyama dan kacamata bulat. Wajahnya teduh namun matanya seakan berbicara tentang hidupnya yang kacau. Ia sadari bahwa sampai hari ini ia masih terikat dengan aturan kota, ia belum bisa jujur, ia masih menyimpan rahasia. Suara hati wanita itu bergema di seluruh penjuru rongga tubuh, membuatnya sesak. Ia sudah tak tahan, takut dan benci dengan aturan kota yang akan membunuhnya secara perlahan. Ia harus lepas dari 'kutuk kota' itu. Ia tak mau cepat mati. 

     Maka diambillah kuas, tinta dan kertas lalu mulai menulis, mencurahkan seluruh isi hatinya. 

     "Maafkan bila tulisan ini terlalu panjang, karena menulis tentangmu seperti menulis tentang dunia, tiada berakhir. 

     Ku harap, ini bukan menjadi suatu hal lelucon bagimu, karena kamu tahu untuk menjadi terbuka dengan siapapun mengenai perasaanku itu sangat sulit, tapi bila saat ini aku jujur padamu aku sudah berhasil meruntuhkan kelemahanku. Aku sudah bisa keluar dari ruang nyamanku.  Tolong hargai ini.  

     Aku lega mau jujur, karena ini sangat beban bagiku bila menutupinya, bila disimpan terlalu lama. Inilah caraku menyukai seseorang. Berbeda. Maaf bila terkesan berlebihan, tapi aku suka cara ini. Aku bisa menuangkannya langsung. Lewat tulisan ini aku sampaikan bahwa aku menyayangimu, mencintaimu, dan berusaha untuk selalu bersama denganmu. 

     Bagaimana menurutmu? Aku tak tahu bagaimana sikapmu padaku kedepan setelah kamu membacanya. Kukira hanya bisa ungkapkan saja, tiada yang lebih. Setelah kau tahu ini, aku akan bersikap seperti biasa, seperti awal masih menganggapmu teman, kakak, dan kapten kapal.  

     Haha, iya, tenang saja. Sekarang aku sedang mencoba kembali seperti awal, sengaja mengacuhkanmu, butuh waktu. Jadi maafkan  bila kedepannya masih dingin, hilang sementara atau apapun, karena sedang mencoba menghapus perasaan sukaku padamu. Apalagi mengingat jadwal bertemu akan terus berlangsung di tempat pertama kali kita bertemu. Aku mungkin masih kaku dalam bersikap karena telah demikian tapi tentunya mudah bagiku untuk beradaptasi kembali. Tenang saja. Setiap usaha untuk menghapus selalu berhasil, karena biasanya setelah berkata jujur, perasaanku akan surut. Bahkan secara perlahan akan hilang, aku tak tahu juga kenapa demikian. Bisa saja setelah kau membaca ini aku sudah secara mutlak menjadikanmu hanya sebagi seorang teman, kakak dan kapten kapal, tak lebih dari itu. Bantu doakan, karena ini juga demi kamu agar aku tak lagi mengganggumu. Menulis hal ini seakan-akan menjadi nyata saja. 

     Bila suatu hari, kita menjadi 'jauh' jangan pernah ingatkan kalau aku pernah melakukan hal diluar garis nyamanku 'menulis tentang perasaanku padamu'. 

     Ohya, perlu kuingatkan aku pribadi yang sedang mencoba terbuka lagi untuk siapapun tapi bukan berarti 'siapapun' itu terbuka juga dengan orang lain tentang ini. Sederhananya jangan kamu ceritakan kepada orang lain tentang hal ini, aku hanya ingin kamu saja yang tahu, dan bila ada orang lain yang tahu itu akan membuatku sangat marah dan pastinya akan secara perlahan keluar dari lingkunganmu, duniamu. Aku tak mau lagi menjadi teman berlayarmu. Kamu pasti mengerti itu. Sejatinya, perasaan ini hanya antara aku dan dirimu bukan aku dan mereka. Tolong ingat ini. 

     Aku ingin mengucapkan terima kasih sudah mengajarkanku tentang susahnya memakai topeng, mencintai yang dari kejauhan, dan memaksa untuk menghapus perasaan yang salah. Perubahan memang dari diri sendiri, menjadi dewasa pun masih harus berperang dengan diri sendiri.  Diri ini sudah banyak sekali memberikan pelajaran, namun ada juga yang aku dapatkan pelajaran darimu. Dari mu aku belajar untuk menyukai tak butuh embel-embel cukup kharisma yang berperan, darimulah aku berusaha untuk bersikap tenang, tak gegabah dan secara perlahan mengurangi sifat kekanak-kanakanku, serta kau menjadi alasan pengalamanku untuk menyatakan perasaan lewat tulisan dapat terwujud walaupun risikonya besar setelah aku melakukan ini. Hahaha, aku menulis bagaikan kamu masih ada saja. 

     Terlepas dari semua tulisan ini aku hanya ingin mengucapkan 'tiada kutuk lagi di kota ini, orang-orang takkan mati bila tak bisa menyampaikan cinta mereka, mereka tak butuh jujur yang nyata,  karena mengagumi dari jauh saja sudah cukup, tak perlu dengungkan sehingga seisi dunia tahu, kadang kita perlu untuk cukup menyukai saja, tak perlu diumbar, tak perlulah orang itu tahu, tak perlu ingin memiliki, jauh dilubuk hati kita dasarnya manusia punya perasaan seperti itu, cukup mencintai saja. Kita mungkin terikat dengan seutas tali, tapi kita manusia bebas mencintai siapa saja, yang perlu dibatasi ialah bagaimana kita bersikap kepada orang yang mengikat tali dengan kita. Kota ini sebenarnya tak punya aturan, kita saja penduduknya yang takut dengan sebuah kejujuran. Kita sepi, lalu ada para tabib dari desa, dibuatlah oleh mereka sebuah aturan seakan-akan menjadi kutuk di kota ini, padahal kita rentan dengan kesepian, kita menutupi hal-hal indah yang pernah dialami, tanpa kita sadari kita terbunuh secara halus oleh semuanya sehingga tekanan membuat kita menjadi sakit dan mati secara lahiriah.'

     Aku tak menyangka, di usia sekarang baru mengatakan hal terjujur dari perasaanku. Sebenarnya sedikit menyesal karena membuang kesempatan untuk bisa bersama, tapi rasa sedikit penyesalanku itu hilang, mungkin mimpi dan pencapaianku lebih berharga. Kupilih untuk menjelajahi duniaku, ketimbang bersamamu mencari harta karun dunia. Akhirnya semuanya terbayar, walaupun sekarang aku tua dan sendiri tapi aku bahagia dengan pilihan yang kujalani. Aku mencoba menjadi diri sendiri, menikmati hidupku sendiri, hahaha dan aku masih tertawa dengan semua hal yang mengatakan bahwa menjadi perawan tua adalah hal tabu di zaman sekarang, aku harap masa depan, di 1000 tahun lagi pilihan untuk hidup sendiri adalah hal yang memerdekakan manusia itu. 

     Aku tahu surat ini pun hanya bisa tersimpan di laci meja. Surat ini tak akan sampai padamu. Kau sudah berlayar jauh, bukan ke pulau impian kita, tapi ke pulau putih, tempat makhluk berhula menetap dengan Majikannya. Kita mungkin akan bertemu, tunggu aku di sana. 

     Surat ini menjadi pemutus rantai kutukan di kota. Seseorang mungkin mati secara batiniah karena tak dapat mengutarakan perasaannya, namun dia takkan mati dengan mimpinya. Dia bisa menyimpan dan mengubur dengan dalam segala perasaan cinta kepada orang yang ia kagumi, namun dia tak bisa membunuh semua hasrat dirinya. Dunia bukan hanya tentang cinta sepasang manusia, dunia lebih dari itu. Ada yang kau cari melebihi dari cinta manusia. Dan jujur aku sudah dapatkan apa yang lebih dari cinta manusia. Mimpi dan pencapaian. Dengan mimpi-mimpinya dia bisa hidup, dia bisa menggunakannya sebagai napas hidup untuk selamanya. Bila sudah tercapai,  dia akan bermimpi lebih lagi, dan lagi-lagi dia bisa hidup. 

     Aku menulis surat ini tentu dengan rasa cintaku padamu yang tak pernah diutarakan, takkan pernah bisa tersampai dan takkan pernah dimiliki, demikian surat cinta tak bertuan.

Kota Morguexlie, 14 Desember 1883."


     Setelah selesai menulis, wanita itu lalu menaruh surat di dalam amplop cokelat. Disimpannya di laci meja. Ia lalu mematikan lampu dan pergi tidur. Wajahnya masih teduh namun matanya berubah, ada kemerdekaan di sana. Dia bebas. Dia sudah jujur. Tiada aturan lagi, tiada kutuk lagi di kota ini. Kota memang tetap sepi, namun kota itu telah merdeka. 

No comments:

Post a Comment

Lengkara

                  Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesa...