Thursday, December 10, 2020

Kisah Jendela dan Saputangan

 
                     
                 

     Jendela masih terbuka, belum dikunci. Kayunya dari gaharu cokelat yang sedikit lagi lapuk bukan karena termakan usia, tapi tak terawat saja oleh Tuan Rumah. Bagaimana tidak, hari-hari Tuan Rumahnya penuh dengan ratapan, tak ada semangat untuk memperhatikan setiap inci ruangan. Kesedihan terlalu menguasai hidupnya, seakan mengikat dengan keras setiap pergerakan bibir yang berusaha tersenyum.

     Tuan Rumah berjalan ke ruang tengah melewati jendela. Angin menderu seakan memanggilnya untuk segera menutup jendela, namun sia-sia, Tuan Rumah tak peduli dengan itu. Raut wajahnya bagaikan prajurit yang baru saja ditikam tombak oleh musuh saat berperang, putus asa dan kalah. Tuan Rumah berjalan pelan, di tangannya ada sebuah saputangan bergambar pemandangan Kota Bordoeux. Pikirnya dulu, kota itu bisa Ia datangi nanti bersama orang yang Ia kagumi. Namun, saputangan tetaplah saputangan, yang tidak bisa lagi menjadi pemantik tujuan perjalanan. Bukan karena saputangan itu sudah lama tak Ia cuci, tapi karena Pemiliknya pergi dan Tuan Rumah yang menyimpan saputangan itu.

     Sebenarnya tak ada kisah berkesan antara saputangan dan Pemiliknya serta Tuan Rumah. Hanya saja, Tuan Rumah yang terlalu berharap ada kisah berkesan (nanti). Belum juga terikat, ketika Pemilik pergi, Tuan Rumah sudah meratapi, kini menjadikan saputangan yang salah, dan ujung-ujung berdampak pada jendela rumah. 

     Apakah kekuatan kagum seperti itu? Belum juga diiyakan namun membuat segalanya iya, belum juga terpintal tapi seakan membuat segalanya sudah terajut. Belum juga sepakat, tapi sudah putuskan. Lalu saat pergi, Si Pemilik dibilang pemberi harapan. Ketika Si Pemilik tak hiraukan, dirangkailah cerita bahwa Si Tuan Rumah adalah korban dari Pemilik yang hanya ingin bermain-main. Lantas kalau sudah begini, bagaimana saputangan dan jendela bersaksi tentang kebenarannya jika mereka memiliki Tuan Rumah dan Pemilik yang berbeda?.


 

Kupang, 7 Desember 2020.


No comments:

Post a Comment

Lengkara

                  Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesa...