Mahkota di kepalamu terlihat semakin tipis
Alis berantakan ditutup ukiran garis
Namun tak ada yang gurih selain senyummu yang manis
Iya, masih sangat manis
Bagaimana kabarmu?
Masih seperti dulu?
Tak ada yang mengganggu?
Tapi beda denganku
Hancur tak berujung dan semu
Sudahlah lupakan
Tak ada yang tertekan
Kau juga begitu kan
Eh maaf gadis yang aku panggil kau
Aku kira alasannya kau tahu
Ketika semua insan bahu membahu
Berusaha mencari asal bau
Supaya kau tak mati disantap masa lalu
Tapi kau malah tak tahu malu
Berulah lagi seperti benalu
Ah, aku semakin murka
Akulah yang dituduh penyebab luka
Seakan tak bisa membantu dunia
Membantu Nia
Kau mau kemana?
Mau ke sana?
Jangan lama-lama
Dunia sudah membenci untuk bersama!
Mati cepatlah kau perempuan!
Bersama dengan sosok jahat nan tampan
Yang tak bisa menuntun tuan
Biarlah dendamku yang jelas bertuan
Yang tak pantas membenci makhlup ciptaan Tuhan
Sirna dengan melihat eloknya batu nisan
Untukmu gadis, kau, perempuan
Aku Tresmandiva Lusgovian
Malaikat pelindung Nia Handuran
Terima kasih sudah banyak menyusahkan
Setelah kau bunuh jiwanya yang penuh kebaikan
Nia sekarang sudah bisa menerima kenyataan
Bahwa dijebak itu seperti panah bertebaran tanpa sasaran
Menusuk tajam melukai setiap organ
Dan memaksa bibir mungil untuk selalu senyum menawan
Dia punya rahasia kecil di dalam organ
Tersembunyi di hati nan rupawan
Rahasia itu begitu rapi tersimpan
"Aku tak sudi menganggapmu teman"
Pesan ini aku berikan padamu tanpa perantara malaikat pelindungmu yang bodoh dan yang sedikit lagi bersamamu ke tempat api
Tresmandiva Lusgovian
-Adriana Ajeng Ngailu

No comments:
Post a Comment