Monday, April 6, 2020

"Ramuan Pahit"



"Ramuan Pahit!"

   Umpatan dengan nada tinggi menggema di kamar kos bercat cokelat. Suara itu begitu keras, terselip rasa jijik, entah itu jijik karena campuran rempah-rempah (kunyit, jahe, lengkuas, kayu manis, serai) ditambah cuka sari apel atau jijik dengan pribadi yang mencicipinya.

"Sudahlah, kau minum saja itu! " Jawab lelaki bertato tribal dengan kesal.

"Memangnya tak ada yang manis kah Jodi?". Pemilik suara keras tadi dengan sendirinya menurunkan intonasinya.

"Heh Sfii, di dapur ada sirup banyak,  gula banyak,  yah kalau kau mau kantung kemih kau tambah rusak, dapur saya terbuka lebar untuk kau". Jelas lelaki bertato tribal yang bernama Jodi.

   Lampu terlihat remang-remang,  angin sepoi memburu setiap sudut di kamar itu,  jendela belum ditutup mungkin karena udara malam itu begitu segar. Tapi tak sesegar Sfii.

   Sejak sebulan yang lalu, Sfii menderita penyakit kronis ISK atas. Rumah sakit tolol. Tiga kata yang tepat untuk diucapkannya setelah mendapatkan obat yang sangat banyak dari dokter muda yang baru saja ditempatkan disitu. Bagaikan seorang yang bunuh diri karena overdosis , Sfii sangat benci bila menghitung jumlah obat yang diberikan. Yah itu tak sebanding dengan rasa bencinya kepada dokter muda yang memberi nasihat untuk rajin minum airlah,  jangan menahan kencinglah, jaga kebersihanlah, rajin istirahatlah,  dan lah lah lah lainnya serta diiringi dengan ancaman penyakit tambahan seperti gagal ginjal jika Sfii tak indahkan nasihatnya. Hah,  omong kosong,  dokter muda itu terlalu berlebihan,  dia hanya mau ciptakan ruang paranoid.

   Sepulang di rumah, Buldosfii -Jodi lebih senang memanggil Sfii, lebih singkat- hanya menatap obat tadi dan membisik dengan pelan seakan obat itu punya indera pendengar.

"Jangan buat saya mencintaimu,  saya masih mencintai tato". Suaranya sangat lembut tapi tersembunyi sejuta asa.  Sembuh.

"Biarkan saya mencintai pekerjaan saya sepenuhnya, dapatkan uang dan emas,  punya motor cleveland cyclewerks, rumah megah bergaya greek revival dan segudang dus mie sedaap spicy korean chicken. Jika saya menduakannya,  bolehlah kau datang menyiksa. Saya janji."  Bagaikan doa penuh kekuatan,  harapan itu begitu dalam diucap.

Yah, Sfii adalah seorang tatto artist.  Sudah 5 tahun ia geluti dunia tato.  Tribal.  Salah satu jenis tato kesukaannya. Tribal seperti memberikan dimensi misteri dan simbol yang unik. Semua pelanggannya juga suka dengan gambarnya seperti Jodi,  teman sekerjanya.

   Menjadi tatto artist bukanlah cita-cita sewaktu duduk di bangku sekolah.  Sangat jauh dari catatan kecil yang dibelakang buku tulis IPS miliknya.

   Nama    :  Buldosfii Nanta Diar.
   Kelas     : 5 D.
   Hobby   : Main bola  dan menggambar.
  Cita-cita : Dosen.

   Tapi, drama kehidupan adalah milik semesta,  Sfii lebih memilih merantau,  bukan ke ibukota provinsi tapi hanya ke kabupaten yang jaraknya 250 km dari rumah sederhana orang tuanya.  Cari pengalaman katanya. Pilihan itu ditentang orang tuanya,  tapi apa daya naluri liar begitu menguasai jiwa anak muda. Dia bertemu Jodi dalam satu gang saat menggambar mural di dinding gang.  Sejak saat itu Sfii mengajak Jodi untuk buka usaha dari nol. Karena suka menggambar akhirnya Jodi memutuskan untuk bersama merintis usaha 'Gudang Tato'.  Awalnya banyak warga yang tak suka,  mengertilah dengan stempel goblok "Orang bertato dicap kriminal" tapi setelah waktu berjalan dan pemikiran manusia terbuka bahwa tato sekarang menjadi seni dan gaya hidup , tak ada warga yang berkeluh kesah yah salah satu alasan karena sampai detik ini di daerah itu tak ada satupun masalah yang melibatkan orang bertato. Hanya memang warga lebih waspada dengan alat yang harus steril saat digunakan,  dan juga dampak bagi kesehatan,  itu menjadi pertanyaan awam bagi pelanggan. Tato atau tidak,  semua itu pilihan. Tentang norma,  agama,  dan pengakuan,  itu urusan lain.

   Bila Sfii sudah asyik bekerja,  maka ia akan melupakan segalanya,  minum air contohnya.  Kebiasaan itu ia pupuk sejak merantau ditambah lagi mehanan kencing . Alhasil tanaman yang ia pupuk tumbuh menjadi penyakit kronis ISK atas. Sempat terpikir oleh Sfii bila nanti ia meninggal.  Bagaimana hancur hati keluarganya mengetahui tentang pola hidup selama ini,  tentang asa yang diucap setiap doa malam hari oleh kedua orang tuanya, termasuk cita-citanya. Hah,  memikirkannya memang membuat otak sakit. Sfii hanya berharap untuk pulih.

   Hampir dua minggu sudah Sfii mengonsumsi ramuan tradisional racikan Jodi. Selain karena obat sudah habis, lidah Sfii memang lebih memilih meminum ramuan pahit ketimbang obat-obatan. Toh sama-sama pahit juga.

   Kesehatanya agak membaik tapi tak sebaik isi kuantitas dompetnya.  Sejak ia sakit dan menuntutnya untuk istirahat , Jodi yang mengantinya bekerja,  bisa full time. Alhasil Jodi pula yang dapat penghasilan. Sfii terlalu perasaan bila meminta Jodi uang untuk dibagi bersama,  tahu dirilah,  yang kerja siapa yang dapat upah siapa. Tapi Jodi tak begitu,  dia masih manusia,  masih punya jiwa persahabatan yang tinggi- walaupun kadang Sfii meremehkan hasil gambar Jodi yang terkesan sederhana dan norak- jadi selama Sfii sakit Jodilah yang membeli lauk sehari-hari , dan membuatkan ramuan tradisional, dan kebutuhan lainnya.
Mau dikata juga , Jodi lebih menyebalkan dari dokter muda itu,  terlalu penasihat,  bukan!  Terlalu mengoceh. Bising. Tapi nyatanya semua itu demi kebaikan Sfii. Sfii sadar bahwa Jodi bukan saja teman sekerjanya tapi saudara. Yah saudara , kata itu bagai mengobati rasa rindunya pada keluarga.

  Hari berganti dan semua berangsur pulih. Kebiasaan baik selalu dilakukan Sfii,  tak heran bila ia cepat sembuh dari waktu yang diperkirakan. Sfii dan Jodi akhirnya kembali bekerja. Banyak pelanggan yang datang membuat tato, banyak pula pemasukan dalam sehari. Uang yang terkumpul sudah banyak, maunya membeli motor impian cleveland cyclewerks tapi rasa rindu kepada keluarga melampaui segalanya. Uang ini jadi bukti keberhasilannya dulu, nanti kalau sudah dilihat angka nominal di buku rekening, orang tua akan semakin bangga, tak mungkin juga meminta semuanya,  nah jika sudah dipuja barulah beberapa uang dipakai untuk membeli motor. Pas! Pulang.

"Hati-hati kau di jalan , janganlah urus gudang reot ini,  kalau ada uang kau harus jadi dosen". Ucap Jodi dengan lirih.  Ia begitu menyayangi sahabatnya. Jodi paham betul bagaimana rasanya merindukan keluarga, orang tua,  walaupun baginya orang tua itu seperti bintang di langit , semesta menampakan kewenangannya,  menempatkan bintang-bintang itu tenang disisi lain.

"Hahahah , rupanya kau sudah gila,  tapi amin saja. Iya kau juga,  jangan lupa minum ramuan pahitmu,  kau tahu saya sangat membenci itu". Ucap Sfii sambil tertawa renyah.

   Ditatap dengan dalam sahabatnya selama ini,  sangat menyebalkan tapi selalu ada.  Sebenarnya Sfii tak mau pisah dengan Jodi, berulang kali mengajak Jodi ke rumahnya tapi Jodi memilih untuk tetap tinggal di Gudang Tato,  pelanggan masih banyak. Ah sudahlah.


   Laju ojek yang mengantarkannya ke terminal semakin cepat,  lambaian tangan Sfii masih terangkat sampai Jodi hilang dari pandangan. Hilang dari pandangan.



~~~

"Motornya bagus". Ucap Ibu dengan senang. Dilihatnya dengan dekat motor klasik yang menawan hati, tak puas,  disentuh lagi motor itu. Cleveland cyclewerks terpakir gagah di halaman rumput , seakan menampilkan malaikat yang baru turun dari langit.

"Bapak bangga". Suara lelaki paruh baya masih terdengar jelas,  namun matanya sudah kabur,  sudah tak bisa melihat jelas bagaimana rupawan motor itu, ia hanya tahu bagaimana perjuangan anaknya mendapatkan motor itu.

"Selanjutnya bagaimana?". Tanya lelaki itu kepadanya anaknya yang sedang berdiri di depan pintu. Di raut mukanya terlukis dua perasaan. Senang dan sedih .

   Tarikan napas begitu susah bagaikan membengkokan besi besar, sampai didada sesak, sampai di ingatan , hah.  Napas tadi dihembuskan  dengan pelan-pelan. Setelah merasa nyaman barulah suara terdengar.

"Mau lanjut kuliah Pak,  mau jadi dosen". Kalimat itu begitu kuat,  menembus segala ruang perasaan yang hancur.

"Bapak semakin bangga denganmu" . Ditepuk pundak Sfii dengan lembut.  Ada kebahagiaan di raut muka lelaki paruh baya itu.

" Bapak juga lebih suka kamu tinggalkan usahamu itu, kamu sudah berubah" . Lelaki itu tersenyum dalam, ia tahu anak lelakinya jauh lebih menakjubkan dari apa yang ia bayangkan.  Lelaki itu akhirnya masuk ke dalam rumah ,tersesat di kebahagiaan masa tuanya. Anak lelakinya sudah kembali,  mempunyai banyak uang,  berhasil memiliki motor kesukaan yang sama , perilaku yang baik kepada keluarga ,  dan pilihan masa depan yang tepat.

   Tapi Sfii tidak terlalu bahagia.  Air matanya jatuh. Sangat deras,  tangannya berusaha menutup mulut yang merintih, ia tak mau Ibu yang sedang senang dengan motor rupawan melihatnya menangis. Sejuta ingatan berkeliaran di pandangannya.  Jodi,  sahabatnya meninggal dua minggu yang lalu. Kiranya Jodi sehat,  omong kosong. Penipu. Dia sakit.  Sakit yang disembunyikan.  Jodi munafik. Jodi ahli dalam membuat ramuan tradisional  , dia ahli dalam memberi nasihat, itu karena dia punya penyakit yang sama,  kronis ISK atas , tapi dia tak ahli dalam merawat dirinya.

   Hati Sfii begitu hancur,  baru sebulan bersama keluarga,  pesan whatsapp masuk dari salah satu pelanggannya.  2 minggu yang lalu masih teringat jelas , berita kematian Jodi disampaikan,  begitu menusuk jauh ke dalam DNA.

   Sebelum meninggal,  Jodi menjual semua aset Gudang Tato.  Uang hasil  semua penjualan ditransfer ke rekening Sfii tanpa spengetahuan Sfii sebelumnya. Saat mengantarkan jenasah ke liang lahat,  Sfii ingat pesan Jodi padanya , jangan urus Gudang Tato lagi, pakai uang itu -uang tabungan dan uang penjualan aset-  untuk kuliah dan jadilah dosen ,seperti cita-citanya Sfii sedari kecil. Jodi akhirnya dimakamkan disebelah makam kedua orang tuanya.

   Sfii berusaha untuk tenang. Ia menghapus air mata dengan punggung tangan.  Sekitar 2 menit tatapannya kosong,  menghadap ke arah motor  cleveland cyclewerks yang gagah rupawan.

"Hah, bodohlah kau Jodi, dasar tribal bodoh!". Umpatnya dengan nada tinggi menggema di teras cokelat. Suara itu begitu keras, keras seperti pertama kali mencicipi ramuan tradisional racikan Jodi.

   Sfii akhirnya duduk di kursi kayu jati dan menatap Ibunya dengan sayu yang sedari tadi masih ria memandang motor idaman suami dan anak lelakinya kini terparkir manis di halaman rumah sederhana.


- Adriana Ajeng Ngailu


No comments:

Post a Comment

Lengkara

                  Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesa...