Sunday, April 5, 2020

"Semoga Cepat Besok"



   Namanya Lefon lelaki muda berusia 24 tahun yang hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal sejak usianya 20 tahun.  Untuk menghidupi dirinya, sehari-hari Lefon bekerja sebagai pemerah sapi  milik juragan kaya di kampungnya.

   Juragannya mempunyai banyak usaha,  sehingga  banyak pula yang bekerja padanya. Rumah juragan tak pernah sepi dari tamu. Ada yang sekedar bertamu,  ada yang datang melamar kerja,  ada juga yang datang meminjam uang,  dan masih banyak lagi.

   Hari itu juragan memintanya untuk membantu mengembalakan sapi. Ketika sedang mengembalakan sapi-sapi di padang, Lefon melihat seorang gadis manis memakai tas ransel berwarna hitam berjalan kaki melewati padang. 

   Raut wajah yang unik , tatapannya sayu sambil tersenyum sedikit melihat jalan di depannya. Senyuman manis, manis melebihi madu. Rambutnya dikuncir dengan karet cokelat, tak lupa dengan celana jeans panjang dan jaket putih bergambar mawar merah ditengahnya. Kaki kecil diselimuti sepatu bertali tampak berjalan dengan cepat. Gadis itu tak menghiraukan Lefon yang sedari tadi memandangnya. Semakin cepat,  cepat dan hilang dari pandangan,  namun Lefon tak sedetik pun beralih dari gadis itu. Ia begitu tertarik dengan  gadis tadi,  masih teringat jelas senyuman manis yang menghiasi wajahnya.

"Ahh,  siapa namanya?" tanyanya dalam batin.

   Langit masih biru, kicauan burung masih terdengar merdu diatas sana,  tapi sapi-sapi sudah cukup makan. Lefon akhirnya memutuskan untuk pulang. 

   Diperjalanan ia hanya hanya memikirkan gerangan tadi.  Belum juga tahu nama gadis itu,  namun Leson langsung meracik asa untuk berkenalan dengannya esok hari, paling tinggi ialah menikahinya.

   Tangannya begitu erat memegang tali keluh sapi, menuntun sapi-sapi untuk pulang kembali ke kandang. Ia hanya berharap,  semoga cepat besok.

   Sesampainya di rumah juragan,  Lefon membawa sapi-sapi tadi untuk minum di bokor- bokor air yang letaknya di halaman belakang, ketika ia melewati teras Lefon kaget dengan tamu juragan.  Tamu itu ialah gadis manis tadi di padang . Saking kagetnya,  ia memaku cukup lama melihat gadis itu. 

"Ah,  dunia sangat sempit" ungkapnya dalam hati.

"Hei Lefon!  Kau kenapa? " tanya juragan yang heran melihat tingkah lakunya. 

   Lefon sontak tersadar. Ia lalu tersenyum kepada gadis itu,  dan senyumannya dibalas.  Ahhhhh,  dunia indah sekali. 

   Ia lalu senyum kembali dan mengangguk melihat ke arah juragan.  Tangannya masih memegang erat tali keluh sapi. 

"Oh ini,  namanya Mifta , dari kampung sebelah masih muda,  umur 16  tahun "
Kata juragan sambil melihat gadis itu.

"Oh Mif.... "

   Belum selesai bicara, juragan langsung mencela pembicaraanya.

"Mifta ini saya rekrut untuk kerjakan dia di luar negeri,  baik kan?  Supaya dia bisa dapat uang sedikit untuk biayai hidupnya yang sebatang kara.  Saya sudah urus segala persiapannya dengan Om Sole,  teman-temannya juga sudah berangkat minggu lalu,  tinggal dia saja yang belum berangkat , jadi hari ini dia datang kesini supaya saya antar". Jelas juragan.

   Kini Lefon semakin kaget,  ia tak percaya bahwa majikannya selama ini adalah perekrut calon PMI di kampungnya. Gadis manis bernama Mifta, gadis yang membuat ia jatuh hati adalah salah satu calon PMI ilegal. Lefon tahu betul siapa Om Sole teman juragannya.  Om Sole  dari kampung sebelah pernah dituduh sebagai perekrut PMI ilegal oleh kepala desa namun tak bisa dijerat karena tak memiliki barang bukti yang cukup.  Lefon juga tahu bagaimana proses juragannya merekrut calon PMI di kampung.

   Suara mobil terdengar,  Boki si supir lalu membunyikan klakson  pertanda siap untuk berangkat.

"Itu mobil sudah siap,  Mifta mari sudah,  Lefon kau pergi beri minum,  jangan lupa beri sapi itu vitamin,  semakin kurus saja! Beri tahu Meko tutup semua pagar,  pencuri semakin banyak di kampung ini,  mereka iri dengan saya yang semakin kaya"

   Mifta lalu mengangguk dengan senyum ke arah Lefon, senyuman itu kini tak melegakan hati  Lefon,  tapi membuat sedih mendalam,    matanya masih sayu . Ia lalu segera mengikuti juragan dan naik ke mobil.

   Laju mobil semakin cepat,  meninggalkan halaman rumah,  meninggalkan Lefon yang masih   terpaku melihat pemandangan itu.  Bukan! Bukan melihat!  Tapi membayangkan kisahnya tadi saat bertemu Mifta gadis manis di padang dan mendapati kenyataan bahwa ia menjadi calon PMI ilegal oleh juragan. Sekarang gadis bermata sayu itu sudah pergi. Sejuta asa tentang esok,  esok yang adalah waktu untuk berkenalan dengan gadis manis tadi sirna.

"Apalah arti , saya yang tak peduli dari awal akan hal ini jadi jangan berkhayal banyak. Iya! Saya memang hanya pantas menjadi seorang pemerah sapi , selamanya!". Penyesalan dan kutuknya membatin menusuk jauh lebih dalam.


~ Adriana Ajeng Ngailu

2 comments:

Lengkara

                  Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesa...