Jalan
Bajawa masih sepi. Lampu teras setiap rumah di gang masih menyala dari malam belum
dipadamkan oleh setiap pemilik, kecuali sebuah rumah vintage sederhana di ujung jalan, lampunya sudah dipadamkan sejak
sebulan yang lalu. Pagi itu, tampak seorang perempuan paruh baya membawa sebuah
kantong hitam memasuki halaman rumah vintage
sederhana.
"Selamat pagi
Kego." Sapanya lembut.
"Halo Kego, lu di
dalam ko?" Kali ini perempuan itu menaruh kantong di lantai teras, lalu
mengintip lewat jendela ruang tamu, memastikan gerangan yang dipanggil ada di
dalam rumah itu. Terdengar bunyi langkah
kaki, lalu pintu dibuka. Tampak seorang pemuda mengenakan baju hitam sambil
memegang pulpen. Jari telunjuknya penuh dengan cairan tinta berwarna biru yang
sudah mengering.
"Mama Eda"
Jawabnya lembut.
"Kego, ini ada
beras sedikit." Perempuan itu lalu mengulurkan kantong hitam.
"Aduh mama, terima
kasih banyak. Ma disini beras ju masih banyak, belum juga beta habiskan."
"Sudah terima sa,
Ke. Pasti besok su habis ju itu beras, Mama Eda ada berkat jadi mau bagi."
"Jangan Ma Eda,
beta bisa usaha sendiri, Ma Eda tausah
kasih le beta beras." Tolaknya halus.
"His, ini Ma Eda
kasih dengan tulus, jadi terima
sa."
"Tapi Ma Eda"
Napas dan raut wajahnya berlomba untuk menahan emosi
"Sudah su Ma Eda
su jalan."
Perempuan
paruh baya lalu berjalan dengan cepat keluar dari rumah itu. Ia tak lagi
memandang sosok yang berdiri terpaku di depan pintu tadi. Setelah
perempuan hilang dari pandangan, pemuda tadi lalu menendang pintu, cukup
keras, namun suaranya tak terdengar sampai ke telinga insan yang baru pergi. Sepertinya
ia marah dengan kejadian barusan. Ia lalu menutup pintu rumahnya. Suasana pagi
itu terjadi selama 1 bulan terakhir. Terus dan terus.
Namanya
Kego. Lelaki berusia 21 tahun yang
tinggal sendirian di rumah sederhana itu. Ia seorang yatim piatu. Ibunya,
seorang PMI prosedural meninggal di atas pesawat 3 bulan yang lalu saat hendak
pulang ke Kupang setelah 5 tahun lamanya bekerja di luar negeri, sedangkan
ayahnya karena merasa kehilangan menjadi stres hingga depresi lalu jatuh sakit dan meninggal sebulan yang
lalu. Suatu pukulan telak dalam hidup, sudah kekurangan perhatian ibunya, kini
ayahnya lagi. Maunya dunia ini apasih?, terlalu sulitkah membahagiakan dirinya
dari sisi keberadaan keluarga?. Setelah kepergian ayahnya, Kego harus hidup mandiri, tapi karena masih
diselimuti rasa kesepian akan kehilangan kedua orangtua, Kego memilih untuk
berdiam di rumah saja, bila ingin membeli kebutuhan barulah ia pergi. Kego
sangat suka menulis puisi, hampir semua tembok rumah dipajang puisi-puisi
karyanya. Jemarinya selalu bekerja keras meladeni otak yang menyalurkan ide
tulisan yang gila dan dalam sampai tak menghiraukan cairan tinta yang sudah
mengotori kertas-kertas termasuk
jemarinya. Kalaupun sangat sepi, ia menjadikan puisi sebagai teman sekaligus
tempat pelampiasan rasa kepedihan. Statusnya sebagai mahasiswa yang sedang
menyelesaikan tugas akhir tidak menjadi tuntutan lagi baginya. Sepi terlalu
membunuh semua rasa semangat.
Tumbuh
dan tinggal di lingkungan yang peduli sesama adalah suatu keberuntungan
tersendiri di masa sekarang, di saat lingkungan lain memiliki penghuni yang
individual dan apatis. Sudah sebulan pintu rumah Kego selalu diketuk oleh warga
untuk memberi bantuan seperti beras, sayur, uang, hingga perlengkapan mandi.
Awalnya Kego merasa biasa saja, dia sedikit terbantu. Tapi semakin hari bantuan
yang diberikan berlebihan. Kego masih merasa mampu untuk menghidupi dirinya,
namun perlakuan warga padanya seakan membuat dia merasa tidak bisa apa-apa. Dia
tahu kalau maksud warga baik, namun terkesan berlebihan. Dia bisa mendapatkan
uang dengan bekerja sebagai ojek, untuk sementara waktu dia masih bisa
menghidupi dirinya sendiri, lagian tabungan orangtuanya masih cukup.
Baginya,
memberi bantuan ala kadarnya saja, jangan berlebihan, hal itu bisa jadi zona
nyaman yang mematikan. Memiliki pemikiran sedikit-sedikit harus dibantu tanpa
mau berusaha sendiri, masih mampu tapi membuat seolah tak mampu adalah hal yang
miris di dunia ini. Peduli dan kasihan itu beda tipis. Peduli itu memberi bantuan
yang sesuai dan secukupnya, ingin sesuatu yang dibantu itu turut berkembang, tidak
merugikan diri sendiri, sedangkan kasihan itu memberi bantuan apa saja,
berfokus pada perasaan sedih namun tak memperhatikan perkembangan dari sesuatu
yang dibantu, dan cenderung selalu mengorbankan diri sendiri. Ingat, beda tipis
jangan sampai terjebak.
Hal
kasihan ini yang terjadi. Baginya warga bukan peduli, tapi kasihan padanya.
Terlepas dari permasalahan keluarga, kehidupannya yang sendiri dan sepi menjadi
alasan warga selalu mengunjungi rumah untuk memberikan bantuan, bukan
menanyakan kabar, atau paling tidak menanyakan perkembangan tugas akhirnya.
Kego sudah berulang kali menolak segala bantuan, tapi warga selalu memaksa, awalnya ia tak
enak hati untuk menolak, tapi saat sudah menolak pun tetap saja tak diindahkan
oleh warga. Pernah sekali dia mengejar Ibu Ria sampai dirumahnya untuk
mengembalikan sayuran yang diberikan tapi Ibu Ria menolak lalu masuk kerumah
dan mengunci pintu. Ah, apa yang salah dengan warga ini.
Kego
tak mau hal itu terus terjadi padanya. Dia punya suatu ide untuk menyadarkan
warga dengan pendekatan halus atas perlakuan yang keliru padanya selama ini.
Seperti biasa, Jalan Bajawa masih sepi. Lampu teras setiap rumah kecuali rumah
Kego, masih menyala padahal sinar matahari sudah menampakan batang hidung.
Namun ternyata pagi itu ada yang tak biasa. Ada pemandangan berbeda di gang
itu. Sebuah amplop berwarna cokelat terparkir manis di setiap teras rumah
warga. Saat dibuka ternyata berisi surat puisi. Begini tulisnya
Bekas Rumah Duka
Kulitnya
sudah keriput dan tua
Menunggu
pujaan hati datang bersua
Namun
yang datang bukan senyum tawa
Melainkan
isi peti tak bernyawa
Sepi
begitu menyiksa
Mencabik
segala rongga-rongga asa
Berharap
dapat membangun cinta di setiap masa
Hingga
akhirnya dipanggil yang kuasa
Tanpa
menegur penerus yang sudah lama mati rasa
Di
rumah bekas duka
Ada
seorang pemuda yang terluka
Dia
tinggal di dibawah atap yang sunyi
Dikelilingi
ciptaan Tuhan yang baik hati
Terima
kasih kepada setiap insan yang selalu memberi
Tapi
nyatanya , semakin hari semakin sesak isi lemari penyimpanan
Berusaha menampung segala keringat yang sudah
bercucuran
Padahal
tulang dan daging masih kuat berjalan
Iya!
Tubuh ini masih mampu
Biarkanlah
dia berusaha mencari tumpu
Sekali
lagi terima kasih, cukup dulu rasa peduli dan kasihan
Karena
memberi ruang kepada insan yang mau berusaha adalah suatu penghargaan
Dari
pemuda yang tinggal di ujung jalan
Yang
sudah bisa membedakan rasa peduli dan kasihan, Kego.
Setelah semua orang membaca puisi itu, ada yang hanya menarik napas, ada yang sedikit kesal, ada yang mengangguk kepala. Beberapa diantara mereka akhirnya sadar bahwa Kego adalah pribadi yang mau berusaha dan tak mau dikasihani. Mereka juga sadar akan perlakuan keliru selama ini, keliru akan makna peduli sesungguhnya, karena dengan memberikan suatu kenyamanan berlebihan sama seperti memberi racun. Seharusnya memberikan ruang untuk bertumbuh dan berkembang. Seseorang memang pernah berada di lubang terkelam, memberikan tangga lebih baik ketimbang memberikan pintu kemana saja.
Kali
ini Jalan Bajawa kembali sepi, walaupun sudah memasuki jam-jam produktif,
mungkin karena amplop cokelat tadi. Ada yang acuh pada isinya lalu melanjutkan
kegiatan sehari, ada juga yang memilih berdiam di dalam rumah untuk introspeksi
diri. Tidak semua, tapi ada. Itu sudah lebih dari cukup, intinya bisa
tersampaikan. Urusan mengerti atau tidak , semuanya kembali pada pribadi
masing-masing, harapnya tak ada lagi yang berlebihan, itu saja.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 09.00 wita,
waktu yang tepat untuk pergi menyelesaikan tugas akhir di kampus. Sambil
mengendarai motor, Kego keluar dari halaman rumahnya yang sempit lalu menegur
setiap warga di gangnya, menegur setiap orang yang sudah menerima amplop cokelat,
menegur setiap orang yang memberi secara berlebihan, menegur setiap orang yang
mungkin sudah sadar. Meskipun ada beberapa warga yang hanya menjawab dari dalam
rumah, yah tidak semua, itu sudah menciptakan perasaan lega didalam hati yang
telah diutarakan. Mereka akhirnya menjadi warga yang peduli dan berlaku baik.
Jalan Bajawa, sepimu terlalu luas untuk pribadi yang tak bisa mengukur jarak
rindu pada generasi sebelumnya.

No comments:
Post a Comment