Wednesday, August 12, 2020

Bekas Rumah Duka


Jalan Bajawa masih sepi. Lampu teras setiap rumah di gang masih menyala dari malam belum dipadamkan oleh setiap pemilik, kecuali sebuah rumah vintage sederhana di ujung jalan, lampunya sudah dipadamkan sejak sebulan yang lalu. Pagi itu, tampak seorang perempuan paruh baya membawa sebuah kantong hitam memasuki halaman rumah vintage sederhana.

 

"Selamat pagi Kego." Sapanya lembut.

"Halo Kego, lu di dalam ko?" Kali ini perempuan itu menaruh kantong di lantai teras, lalu mengintip lewat jendela ruang tamu, memastikan gerangan yang dipanggil ada di dalam rumah itu. Terdengar bunyi langkah  kaki, lalu pintu dibuka. Tampak seorang pemuda mengenakan baju hitam sambil memegang pulpen. Jari telunjuknya penuh dengan cairan tinta berwarna biru yang sudah mengering.

"Mama Eda" Jawabnya lembut.

"Kego, ini ada beras sedikit." Perempuan itu lalu mengulurkan kantong hitam.

"Aduh mama, terima kasih banyak. Ma disini beras ju masih banyak, belum juga beta habiskan."

"Sudah terima sa, Ke. Pasti besok su habis ju itu beras, Mama Eda ada berkat jadi mau bagi."

"Jangan Ma Eda, beta bisa usaha sendiri,  Ma Eda tausah kasih le beta beras." Tolaknya halus.

"His, ini Ma Eda kasih dengan tulus,  jadi terima sa."

"Tapi Ma Eda" Napas dan raut wajahnya berlomba untuk menahan emosi

"Sudah su Ma Eda su jalan."

 

Perempuan paruh baya lalu berjalan dengan cepat keluar dari rumah itu. Ia tak lagi memandang sosok yang berdiri terpaku di depan pintu tadi.  Setelah  perempuan hilang dari pandangan, pemuda tadi lalu menendang pintu, cukup keras, namun suaranya tak terdengar sampai ke telinga insan yang baru pergi. Sepertinya ia marah dengan kejadian barusan. Ia lalu menutup pintu rumahnya. Suasana pagi itu terjadi selama 1 bulan terakhir. Terus dan terus.

Namanya  Kego. Lelaki berusia 21 tahun yang tinggal sendirian di rumah sederhana itu. Ia seorang yatim piatu. Ibunya, seorang PMI prosedural meninggal di atas pesawat 3 bulan yang lalu saat hendak pulang ke Kupang setelah 5 tahun lamanya bekerja di luar negeri, sedangkan ayahnya karena merasa kehilangan menjadi stres hingga depresi  lalu jatuh sakit dan meninggal sebulan yang lalu. Suatu pukulan telak dalam hidup, sudah kekurangan perhatian ibunya, kini ayahnya lagi. Maunya dunia ini apasih?, terlalu sulitkah membahagiakan dirinya dari sisi keberadaan keluarga?. Setelah kepergian ayahnya,  Kego harus hidup mandiri, tapi karena masih diselimuti rasa kesepian akan kehilangan kedua orangtua, Kego memilih untuk berdiam di rumah saja, bila ingin membeli kebutuhan barulah ia pergi. Kego sangat suka menulis puisi, hampir semua tembok rumah dipajang puisi-puisi karyanya. Jemarinya selalu bekerja keras meladeni otak yang menyalurkan ide tulisan yang gila dan dalam sampai tak menghiraukan cairan tinta yang sudah mengotori  kertas-kertas termasuk jemarinya. Kalaupun sangat sepi, ia menjadikan puisi sebagai teman sekaligus tempat pelampiasan rasa kepedihan. Statusnya sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir tidak menjadi tuntutan lagi baginya. Sepi terlalu membunuh semua rasa semangat.

Tumbuh dan tinggal di lingkungan yang peduli sesama adalah suatu keberuntungan tersendiri di masa sekarang, di saat lingkungan lain memiliki penghuni yang individual dan apatis. Sudah sebulan pintu rumah Kego selalu diketuk oleh warga untuk memberi bantuan seperti beras, sayur, uang, hingga perlengkapan mandi. Awalnya Kego merasa biasa saja, dia sedikit terbantu. Tapi semakin hari bantuan yang diberikan berlebihan. Kego masih merasa mampu untuk menghidupi dirinya, namun perlakuan warga padanya seakan membuat dia merasa tidak bisa apa-apa. Dia tahu kalau maksud warga baik, namun terkesan berlebihan. Dia bisa mendapatkan uang dengan bekerja sebagai ojek, untuk sementara waktu dia masih bisa menghidupi dirinya sendiri, lagian tabungan orangtuanya masih cukup.

Baginya, memberi bantuan ala kadarnya saja, jangan berlebihan, hal itu bisa jadi zona nyaman yang mematikan. Memiliki pemikiran sedikit-sedikit harus dibantu tanpa mau berusaha sendiri, masih mampu tapi membuat seolah tak mampu adalah hal yang miris di dunia ini. Peduli dan kasihan itu beda tipis. Peduli itu memberi bantuan yang sesuai dan secukupnya, ingin sesuatu yang dibantu itu turut berkembang, tidak merugikan diri sendiri, sedangkan kasihan itu memberi bantuan apa saja, berfokus pada perasaan sedih namun tak memperhatikan perkembangan dari sesuatu yang dibantu, dan cenderung selalu mengorbankan diri sendiri. Ingat, beda tipis jangan sampai terjebak.

Hal kasihan ini yang terjadi. Baginya warga bukan peduli, tapi kasihan padanya. Terlepas dari permasalahan keluarga, kehidupannya yang sendiri dan sepi menjadi alasan warga selalu mengunjungi rumah untuk memberikan bantuan, bukan menanyakan kabar, atau paling tidak menanyakan perkembangan tugas akhirnya. Kego sudah berulang kali menolak segala bantuan,  tapi warga selalu memaksa, awalnya ia tak enak hati untuk menolak, tapi saat sudah menolak pun tetap saja tak diindahkan oleh warga. Pernah sekali dia mengejar Ibu Ria sampai dirumahnya untuk mengembalikan sayuran yang diberikan tapi Ibu Ria menolak lalu masuk kerumah dan mengunci pintu. Ah, apa yang salah dengan warga ini.

Kego tak mau hal itu terus terjadi padanya. Dia punya suatu ide untuk menyadarkan warga dengan pendekatan halus atas perlakuan yang keliru padanya selama ini. Seperti biasa, Jalan Bajawa masih sepi. Lampu teras setiap rumah kecuali rumah Kego, masih menyala padahal sinar matahari sudah menampakan batang hidung. Namun ternyata pagi itu ada yang tak biasa. Ada pemandangan berbeda di gang itu. Sebuah amplop berwarna cokelat terparkir manis di setiap teras rumah warga. Saat dibuka ternyata berisi surat puisi. Begini tulisnya                                   

Bekas  Rumah Duka

 

Kulitnya sudah keriput dan tua

Menunggu pujaan hati datang bersua

Namun yang datang bukan senyum tawa

Melainkan isi peti tak bernyawa

 

Sepi begitu menyiksa

Mencabik segala rongga-rongga asa

Berharap dapat membangun cinta di setiap masa

Hingga akhirnya dipanggil yang kuasa

Tanpa menegur penerus yang sudah lama mati rasa

 

Di rumah bekas duka

Ada seorang  pemuda yang terluka

 

Dia tinggal di dibawah atap yang sunyi

Dikelilingi ciptaan Tuhan yang baik hati

Terima kasih kepada setiap insan yang selalu memberi

 

Tapi nyatanya , semakin hari semakin sesak isi lemari penyimpanan

Berusaha  menampung segala keringat yang sudah bercucuran

Padahal tulang dan daging masih kuat berjalan

 

Iya! Tubuh ini masih mampu

Biarkanlah dia berusaha mencari tumpu

 

Sekali lagi terima kasih, cukup dulu rasa peduli dan kasihan

Karena memberi ruang kepada insan yang mau berusaha adalah suatu penghargaan

 

Dari pemuda yang tinggal di ujung jalan

Yang sudah bisa membedakan rasa peduli dan kasihan, Kego.

       

Setelah semua orang membaca puisi itu, ada yang hanya menarik napas, ada yang sedikit kesal, ada yang mengangguk kepala. Beberapa diantara mereka akhirnya sadar bahwa Kego adalah pribadi yang mau berusaha dan tak mau dikasihani. Mereka juga sadar akan perlakuan keliru selama ini, keliru akan makna peduli sesungguhnya, karena dengan memberikan suatu kenyamanan berlebihan sama seperti memberi racun. Seharusnya memberikan ruang untuk bertumbuh dan berkembang. Seseorang memang pernah berada di lubang terkelam, memberikan tangga lebih baik ketimbang memberikan pintu kemana saja.

Kali ini Jalan Bajawa kembali sepi, walaupun sudah memasuki jam-jam produktif, mungkin karena amplop cokelat tadi. Ada yang acuh pada isinya lalu melanjutkan kegiatan sehari, ada juga yang memilih berdiam di dalam rumah untuk introspeksi diri. Tidak semua, tapi ada. Itu sudah lebih dari cukup, intinya bisa tersampaikan. Urusan mengerti atau tidak , semuanya kembali pada pribadi masing-masing, harapnya tak ada lagi yang berlebihan, itu saja.

 Jam dinding sudah menunjukan pukul 09.00 wita, waktu yang tepat untuk pergi menyelesaikan tugas akhir di kampus. Sambil mengendarai motor, Kego keluar dari halaman rumahnya yang sempit lalu menegur setiap warga di gangnya, menegur setiap orang yang sudah menerima amplop cokelat, menegur setiap orang yang memberi secara berlebihan, menegur setiap orang yang mungkin sudah sadar. Meskipun ada beberapa warga yang hanya menjawab dari dalam rumah, yah tidak semua, itu sudah menciptakan perasaan lega didalam hati yang telah diutarakan. Mereka akhirnya menjadi warga yang peduli dan berlaku baik. Jalan Bajawa, sepimu terlalu luas untuk pribadi yang tak bisa mengukur jarak rindu pada generasi sebelumnya. 

No comments:

Post a Comment

Lengkara

                  Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesa...