Sunday, January 30, 2022

Lengkara

                 


Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesakitan daging dan fantasi otak dari makhluk yang bernapas di dua dunia.

Membatasi segala lini dan relasi. Menjaga jarak dan menciptakan distraksi dengan pribadi miskin humanis. Obesitas tenaga dan pikiran di lingkungan eksploitasi berkedok support system. Bahkan bekerja sama dengan dunia sekadar mengingkari hal personal dalam diri.

"Iya boleh", template kalimat mematikan untuk menyibukkan diri di dunia asing yang sejujurnya hanya formalitas menjadi manusia berguna, sedikit. Selain dari itu, 'tersesat'. 'Tersesat' di tumpukan asa manusia haus pencapaian dan pengakuan pribadi.

Membutuhkan petunjuk jalan, namun lupa kalau biji mata dapat melihat lumut yang menempel di kayu lapuk. Seakan menjadi buta, reot dan tak berdaya.

Bukan tentang sekuat punggung menanggung beban, setebal kulit menyelimuti tulang, seberapa lama paru-paru bekerja. Tapi tentang puncak kesadaran saat sore hari ketika duduk di sebuah teras tempat perteduhan "Ini semua sebenarnya untuk apa?"

Menemukan milyaran jawaban kata penguatan, walaupun bersifat positif, tapi cukup muak dengan semua itu. Seperti mengilhami bahwa kehidupan pasti demikian, tantangan yang dihadapi oleh semua kalangan pada dasarnya sama, hanya saja pola dan kondisinya berbeda. Mengalami keterasingan dari segala sesuatu mengisyaratkan bahwa ada yang belum selesai dengan diri sendiri. Apatis.

Selama ini menjadi pemeran pembantu di skenario terbaik orang lain namun tak lupa juga berusaha untuk totalitas mencintai hidup sendiri. Kadang mensyukuri segala nikmat seakan hidup paling bermakna, namun juga sering menjadi pencundang, bisa menjadi orang munafik. Hari ini begitu menjijikkan perbuatan atau pemikiran kontra seakan menjadi kertas paling putih namun esok bisa saja sebaliknya, melakukannya kejijikan itu. Hari ini begitu termotivasi seakan jembatan ada di segala tempat namun esok semangatnya patah bahkan jatuhnya sampai ke dalam bumi tak berujung. Kehidupan yang dinamis.

Tidak kesimpulan positif maupun penguatan omong kosong. Basi.


 

Wednesday, December 16, 2020

Hari Ini Tanggal 9




  

   Sinar matahari belum menyentuh dinding luar rumah, angin masih menari pelan memasuki rongga-rongga ruangan. Angin menari kegirangan, tapi saat dilihatnya ada satu tubuh di pojok kamar yang sedang melamun maka dengan cepatlah ia begerak, berlari kesetanan, menusuk dan menjadi pembunuh. Seketika tubuh tak berdaya, ia meraung kesakitan. Tubuh itu dibunuh oleh angin rindu.

     Hari ini tanggal 9, genap sudah 3 tahun tubuh itu tak berjumpa dengan pasangannya. 596 Mil jarak terbentang untuk memisahkan dua tubuh yang sama-sama sedang berusaha mendapatkan secuil rasa tahu. Tubuh itu mulai bosan, bukan bosan dengan sifat pasangannya, bukan bosan juga dengan waktu dan jarak, tapi tubuh itu bosan dengan dirinya sendiri. Terlalu cepat merasa sendiri, terlalu cepat merindu, terlalu mudah untuk dibunuh angin rindu. Ujung-ujungnya dia yang mati tersiksa. Kini tubuh hanya bisa mengutuki dirinya yang lemah dan semua itu membuatnya membenci angin rindu. Jauh dilubuk hatinya, ia hanya mau berhenti menahan beban, dia mau kuat. 

     Setelah waktu berlalu, sedikit sinar matahari sudah menyentuh rumah hingga jendela kamar. Tubuh lalu bangkit. Ia mengumpulkan kekuatan untuk hengkang dari pojokan kamar. Dicarilah cara untuk membunuh angin rindu itu. Awalnya memang menguras tenaga, tapi setelah dilakukan ternyata berhasil, kini angin itu mendapat mendapat pembalasan, angin tak menari lagi, tak membunuhnya lagi. Angin sudah mati. 

     Kau takkan menyadari bahwa cara yang dipilih tubuh cukup mudah namun sadis dan mematikan.

     Tubuh itu pergi menemui pasangannya.

     Hei Bung, jangan berpikir terlalu keras. Bila kau rindu yah 'bertemu' saja. Hari ini masih tanggal 9 di tahun 2020 belum di tahun 2021. Kau tahu, tahun 2021 tak mengizinkan kau terus tersiksa dan mati terbunuh oleh angin rindu. Sudah,  'bertemu' saja.

     


Kupang, 9 Desember 2020


Adriana Ajeng Ngailu

Tuesday, December 15, 2020

Surat Cinta Tak Bertuan

     


     Hari ini 14 Desember 1883, tidak ada hujan di kota. Air langit tidak membasahi segala pohon pinus yang berjejer di sepanjang jalan. Kering. Tidak ada hiruk pikuk hingga sepinya menusuk sampai ke tulang. Ini kota yang hampir mati. Banyak penduduk yang sudah pergi. Mereka pergi meninggalkan kenangan dan perasaan. Mereka hilang dengan dengan sesuatu yang hanya dimiliki seorang manusia. Kota yang hanya ditinggali beberapa manusia. Mereka memilih bertahan, bukan karena pasokan gandum dan kentang dari beberapa desa sekitar masih banyak, bukan karena ciri khas ramuan anggur dari kota itu yang begitu nikmat, bukan. Tapi, karena kota itu memiliki aturan yang mengikat di setiap diri penduduk aslinya dan sudah mendarah daging; Bila tak temukan, kembalilah.

     Cahaya lampu jalan yang remang membantu menuntun serangga malam untuk mencari asupan. Mereka berlomba-lomba untuk membahagiakan perut, ramai dan berisik, sangat berbanding terbalik dengan rumah yang ada di sudut jalan. Sebuah rumah sederhana dan tenang. Di kamar atapnya ada lampu eglare pinno berwarna kuning pastel yang masih menyala menerangi seisi ruangan. Tampak seorang wanita usia paruh baya duduk bersandar di kursi bergaya fauteuil. Ia mengenakan piyama dan kacamata bulat. Wajahnya teduh namun matanya seakan berbicara tentang hidupnya yang kacau. Ia sadari bahwa sampai hari ini ia masih terikat dengan aturan kota, ia belum bisa jujur, ia masih menyimpan rahasia. Suara hati wanita itu bergema di seluruh penjuru rongga tubuh, membuatnya sesak. Ia sudah tak tahan, takut dan benci dengan aturan kota yang akan membunuhnya secara perlahan. Ia harus lepas dari 'kutuk kota' itu. Ia tak mau cepat mati. 

     Maka diambillah kuas, tinta dan kertas lalu mulai menulis, mencurahkan seluruh isi hatinya. 

     "Maafkan bila tulisan ini terlalu panjang, karena menulis tentangmu seperti menulis tentang dunia, tiada berakhir. 

     Ku harap, ini bukan menjadi suatu hal lelucon bagimu, karena kamu tahu untuk menjadi terbuka dengan siapapun mengenai perasaanku itu sangat sulit, tapi bila saat ini aku jujur padamu aku sudah berhasil meruntuhkan kelemahanku. Aku sudah bisa keluar dari ruang nyamanku.  Tolong hargai ini.  

     Aku lega mau jujur, karena ini sangat beban bagiku bila menutupinya, bila disimpan terlalu lama. Inilah caraku menyukai seseorang. Berbeda. Maaf bila terkesan berlebihan, tapi aku suka cara ini. Aku bisa menuangkannya langsung. Lewat tulisan ini aku sampaikan bahwa aku menyayangimu, mencintaimu, dan berusaha untuk selalu bersama denganmu. 

     Bagaimana menurutmu? Aku tak tahu bagaimana sikapmu padaku kedepan setelah kamu membacanya. Kukira hanya bisa ungkapkan saja, tiada yang lebih. Setelah kau tahu ini, aku akan bersikap seperti biasa, seperti awal masih menganggapmu teman, kakak, dan kapten kapal.  

     Haha, iya, tenang saja. Sekarang aku sedang mencoba kembali seperti awal, sengaja mengacuhkanmu, butuh waktu. Jadi maafkan  bila kedepannya masih dingin, hilang sementara atau apapun, karena sedang mencoba menghapus perasaan sukaku padamu. Apalagi mengingat jadwal bertemu akan terus berlangsung di tempat pertama kali kita bertemu. Aku mungkin masih kaku dalam bersikap karena telah demikian tapi tentunya mudah bagiku untuk beradaptasi kembali. Tenang saja. Setiap usaha untuk menghapus selalu berhasil, karena biasanya setelah berkata jujur, perasaanku akan surut. Bahkan secara perlahan akan hilang, aku tak tahu juga kenapa demikian. Bisa saja setelah kau membaca ini aku sudah secara mutlak menjadikanmu hanya sebagi seorang teman, kakak dan kapten kapal, tak lebih dari itu. Bantu doakan, karena ini juga demi kamu agar aku tak lagi mengganggumu. Menulis hal ini seakan-akan menjadi nyata saja. 

     Bila suatu hari, kita menjadi 'jauh' jangan pernah ingatkan kalau aku pernah melakukan hal diluar garis nyamanku 'menulis tentang perasaanku padamu'. 

     Ohya, perlu kuingatkan aku pribadi yang sedang mencoba terbuka lagi untuk siapapun tapi bukan berarti 'siapapun' itu terbuka juga dengan orang lain tentang ini. Sederhananya jangan kamu ceritakan kepada orang lain tentang hal ini, aku hanya ingin kamu saja yang tahu, dan bila ada orang lain yang tahu itu akan membuatku sangat marah dan pastinya akan secara perlahan keluar dari lingkunganmu, duniamu. Aku tak mau lagi menjadi teman berlayarmu. Kamu pasti mengerti itu. Sejatinya, perasaan ini hanya antara aku dan dirimu bukan aku dan mereka. Tolong ingat ini. 

     Aku ingin mengucapkan terima kasih sudah mengajarkanku tentang susahnya memakai topeng, mencintai yang dari kejauhan, dan memaksa untuk menghapus perasaan yang salah. Perubahan memang dari diri sendiri, menjadi dewasa pun masih harus berperang dengan diri sendiri.  Diri ini sudah banyak sekali memberikan pelajaran, namun ada juga yang aku dapatkan pelajaran darimu. Dari mu aku belajar untuk menyukai tak butuh embel-embel cukup kharisma yang berperan, darimulah aku berusaha untuk bersikap tenang, tak gegabah dan secara perlahan mengurangi sifat kekanak-kanakanku, serta kau menjadi alasan pengalamanku untuk menyatakan perasaan lewat tulisan dapat terwujud walaupun risikonya besar setelah aku melakukan ini. Hahaha, aku menulis bagaikan kamu masih ada saja. 

     Terlepas dari semua tulisan ini aku hanya ingin mengucapkan 'tiada kutuk lagi di kota ini, orang-orang takkan mati bila tak bisa menyampaikan cinta mereka, mereka tak butuh jujur yang nyata,  karena mengagumi dari jauh saja sudah cukup, tak perlu dengungkan sehingga seisi dunia tahu, kadang kita perlu untuk cukup menyukai saja, tak perlu diumbar, tak perlulah orang itu tahu, tak perlu ingin memiliki, jauh dilubuk hati kita dasarnya manusia punya perasaan seperti itu, cukup mencintai saja. Kita mungkin terikat dengan seutas tali, tapi kita manusia bebas mencintai siapa saja, yang perlu dibatasi ialah bagaimana kita bersikap kepada orang yang mengikat tali dengan kita. Kota ini sebenarnya tak punya aturan, kita saja penduduknya yang takut dengan sebuah kejujuran. Kita sepi, lalu ada para tabib dari desa, dibuatlah oleh mereka sebuah aturan seakan-akan menjadi kutuk di kota ini, padahal kita rentan dengan kesepian, kita menutupi hal-hal indah yang pernah dialami, tanpa kita sadari kita terbunuh secara halus oleh semuanya sehingga tekanan membuat kita menjadi sakit dan mati secara lahiriah.'

     Aku tak menyangka, di usia sekarang baru mengatakan hal terjujur dari perasaanku. Sebenarnya sedikit menyesal karena membuang kesempatan untuk bisa bersama, tapi rasa sedikit penyesalanku itu hilang, mungkin mimpi dan pencapaianku lebih berharga. Kupilih untuk menjelajahi duniaku, ketimbang bersamamu mencari harta karun dunia. Akhirnya semuanya terbayar, walaupun sekarang aku tua dan sendiri tapi aku bahagia dengan pilihan yang kujalani. Aku mencoba menjadi diri sendiri, menikmati hidupku sendiri, hahaha dan aku masih tertawa dengan semua hal yang mengatakan bahwa menjadi perawan tua adalah hal tabu di zaman sekarang, aku harap masa depan, di 1000 tahun lagi pilihan untuk hidup sendiri adalah hal yang memerdekakan manusia itu. 

     Aku tahu surat ini pun hanya bisa tersimpan di laci meja. Surat ini tak akan sampai padamu. Kau sudah berlayar jauh, bukan ke pulau impian kita, tapi ke pulau putih, tempat makhluk berhula menetap dengan Majikannya. Kita mungkin akan bertemu, tunggu aku di sana. 

     Surat ini menjadi pemutus rantai kutukan di kota. Seseorang mungkin mati secara batiniah karena tak dapat mengutarakan perasaannya, namun dia takkan mati dengan mimpinya. Dia bisa menyimpan dan mengubur dengan dalam segala perasaan cinta kepada orang yang ia kagumi, namun dia tak bisa membunuh semua hasrat dirinya. Dunia bukan hanya tentang cinta sepasang manusia, dunia lebih dari itu. Ada yang kau cari melebihi dari cinta manusia. Dan jujur aku sudah dapatkan apa yang lebih dari cinta manusia. Mimpi dan pencapaian. Dengan mimpi-mimpinya dia bisa hidup, dia bisa menggunakannya sebagai napas hidup untuk selamanya. Bila sudah tercapai,  dia akan bermimpi lebih lagi, dan lagi-lagi dia bisa hidup. 

     Aku menulis surat ini tentu dengan rasa cintaku padamu yang tak pernah diutarakan, takkan pernah bisa tersampai dan takkan pernah dimiliki, demikian surat cinta tak bertuan.

Kota Morguexlie, 14 Desember 1883."


     Setelah selesai menulis, wanita itu lalu menaruh surat di dalam amplop cokelat. Disimpannya di laci meja. Ia lalu mematikan lampu dan pergi tidur. Wajahnya masih teduh namun matanya berubah, ada kemerdekaan di sana. Dia bebas. Dia sudah jujur. Tiada aturan lagi, tiada kutuk lagi di kota ini. Kota memang tetap sepi, namun kota itu telah merdeka. 

Thursday, December 10, 2020

Kisah Jendela dan Saputangan

 
                     
                 

     Jendela masih terbuka, belum dikunci. Kayunya dari gaharu cokelat yang sedikit lagi lapuk bukan karena termakan usia, tapi tak terawat saja oleh Tuan Rumah. Bagaimana tidak, hari-hari Tuan Rumahnya penuh dengan ratapan, tak ada semangat untuk memperhatikan setiap inci ruangan. Kesedihan terlalu menguasai hidupnya, seakan mengikat dengan keras setiap pergerakan bibir yang berusaha tersenyum.

     Tuan Rumah berjalan ke ruang tengah melewati jendela. Angin menderu seakan memanggilnya untuk segera menutup jendela, namun sia-sia, Tuan Rumah tak peduli dengan itu. Raut wajahnya bagaikan prajurit yang baru saja ditikam tombak oleh musuh saat berperang, putus asa dan kalah. Tuan Rumah berjalan pelan, di tangannya ada sebuah saputangan bergambar pemandangan Kota Bordoeux. Pikirnya dulu, kota itu bisa Ia datangi nanti bersama orang yang Ia kagumi. Namun, saputangan tetaplah saputangan, yang tidak bisa lagi menjadi pemantik tujuan perjalanan. Bukan karena saputangan itu sudah lama tak Ia cuci, tapi karena Pemiliknya pergi dan Tuan Rumah yang menyimpan saputangan itu.

     Sebenarnya tak ada kisah berkesan antara saputangan dan Pemiliknya serta Tuan Rumah. Hanya saja, Tuan Rumah yang terlalu berharap ada kisah berkesan (nanti). Belum juga terikat, ketika Pemilik pergi, Tuan Rumah sudah meratapi, kini menjadikan saputangan yang salah, dan ujung-ujung berdampak pada jendela rumah. 

     Apakah kekuatan kagum seperti itu? Belum juga diiyakan namun membuat segalanya iya, belum juga terpintal tapi seakan membuat segalanya sudah terajut. Belum juga sepakat, tapi sudah putuskan. Lalu saat pergi, Si Pemilik dibilang pemberi harapan. Ketika Si Pemilik tak hiraukan, dirangkailah cerita bahwa Si Tuan Rumah adalah korban dari Pemilik yang hanya ingin bermain-main. Lantas kalau sudah begini, bagaimana saputangan dan jendela bersaksi tentang kebenarannya jika mereka memiliki Tuan Rumah dan Pemilik yang berbeda?.


 

Kupang, 7 Desember 2020.


Saturday, December 5, 2020

"Hari Menuju Berubah Jadi Tiba"

 


   Kalo dulu mimpi masih taputar di kepala, ini kali itu mimpi berubah jadi kaki yang su bisa badiri di atas tanah orang.

   Kalo dulu masih dilema pilih arah mata angin untuk berlayar, ini kali su bisa memilih dengan pasti dimana akan berlabuh.

   Kalo dulu beban yang datang bikin badan sakit, ini kali pundak yang kuat bisa mewakili untuk bantu topang semua bentuk rasa.

   Di waktu sekarang sonde semua hal datang dengan babae. Harus belajar, usaha, jatoh, su menyerah,  ma ingat semua impian dan perjuangan kembali, mau son mau harus bangkit. 

   Ma kadang ju harus percaya dan ilhami, bahwa sonde semua hal harus terwujud,  ada beberapa yang sonde bisa dapa. Itu karena manusia punya keterbatasan, sekali le harus percaya dan ilhami itu. Seperti biasa, butuh waktu untuk tarek dan hembuskan napas, tubuh butuh jeda.

   Beberapa kalimat di atas diutarakan agar bisa jadi refleksi untuk hal apapun yang terjadi sampai di usia sekarang. Sebenarnya sonde pandai mendoakan orang, kadang ju bingung untuk sampaikan, tapi mau coba libatkan media tulis ko berusaha kasi tau hal sederhana di hari bahagia. 


  Hari bahagia di akhir tahun. Selamat tanggal 10 Desember. 

Selamat Ulang Tahun. 

Untuk  'anak pertama'. 

Untuk anak yang membuat 'Ibunya tertawa'. 

Untuk anak yang 'dijanjikan' dan telah terkabul.

Untuk anak yang nama leluhurnya berasal dari 'Pulau Buaya'.


   Selamat menjalani hari-hari sebagai seorang manusia.

  Apapun yang diimpikan selagi itu baik, benar dan tentunya direstui Tuhan, semoga terkabul. Amin. 


(Tulisan ini dirangkai tanggal 5 Desember 2020, di hari-hari menuju untuk berubah jadi tiba di tanggal 10 Desember 2020.) 

Friday, September 11, 2020

Malam Kacau (fiksi)




Malam kemarin aku berusaha untuk tidur lebih awal, selambatnya pukul 9 malam
Malam kemarin aku berusaha untuk menutup mata lebih erat, maksudku lebih tenang
Malam kemarin aku berusaha melupakan semua perjalanan di siang hari, dan semuanya berhasil
Tapi malam ini,  malam yang kacau
Rantai bayanganmu terlalu kuat mengikat

Hari ini kau tidur berselimut kain katun
Akupun demikian
Tapi kita tidak demikian dengan rasa saling merindukan

Sayang, kita terlalu kaku untuk sesuatu yang seharusnya kita nikmati dengan santai
Kita terlalu berusaha menutupi sampai lupa cara bertegur
Kita terlalu mengubur rasa ingin mendekap padahal rasa itu masih bernyawa

Bila suatu hari senyum menjadi bab awal untuk menyapa
Tolonglah aku agar malam harinya bisa tertidur lelap
Tidur yang lelap tak seperti tidur di malam hari ini
Biarkan malam itu aku bayar atas mimpi-mimpi kacau yang telah berubah menjadi penyesalan
Bahwa dulu aku tak sampai tidur
Hanya karena terkutuki oleh rasa mengagumi
(insan yang sama-sama mengelak rasa)





Wednesday, August 12, 2020

Bekas Rumah Duka


Jalan Bajawa masih sepi. Lampu teras setiap rumah di gang masih menyala dari malam belum dipadamkan oleh setiap pemilik, kecuali sebuah rumah vintage sederhana di ujung jalan, lampunya sudah dipadamkan sejak sebulan yang lalu. Pagi itu, tampak seorang perempuan paruh baya membawa sebuah kantong hitam memasuki halaman rumah vintage sederhana.

 

"Selamat pagi Kego." Sapanya lembut.

"Halo Kego, lu di dalam ko?" Kali ini perempuan itu menaruh kantong di lantai teras, lalu mengintip lewat jendela ruang tamu, memastikan gerangan yang dipanggil ada di dalam rumah itu. Terdengar bunyi langkah  kaki, lalu pintu dibuka. Tampak seorang pemuda mengenakan baju hitam sambil memegang pulpen. Jari telunjuknya penuh dengan cairan tinta berwarna biru yang sudah mengering.

"Mama Eda" Jawabnya lembut.

"Kego, ini ada beras sedikit." Perempuan itu lalu mengulurkan kantong hitam.

"Aduh mama, terima kasih banyak. Ma disini beras ju masih banyak, belum juga beta habiskan."

"Sudah terima sa, Ke. Pasti besok su habis ju itu beras, Mama Eda ada berkat jadi mau bagi."

"Jangan Ma Eda, beta bisa usaha sendiri,  Ma Eda tausah kasih le beta beras." Tolaknya halus.

"His, ini Ma Eda kasih dengan tulus,  jadi terima sa."

"Tapi Ma Eda" Napas dan raut wajahnya berlomba untuk menahan emosi

"Sudah su Ma Eda su jalan."

 

Perempuan paruh baya lalu berjalan dengan cepat keluar dari rumah itu. Ia tak lagi memandang sosok yang berdiri terpaku di depan pintu tadi.  Setelah  perempuan hilang dari pandangan, pemuda tadi lalu menendang pintu, cukup keras, namun suaranya tak terdengar sampai ke telinga insan yang baru pergi. Sepertinya ia marah dengan kejadian barusan. Ia lalu menutup pintu rumahnya. Suasana pagi itu terjadi selama 1 bulan terakhir. Terus dan terus.

Namanya  Kego. Lelaki berusia 21 tahun yang tinggal sendirian di rumah sederhana itu. Ia seorang yatim piatu. Ibunya, seorang PMI prosedural meninggal di atas pesawat 3 bulan yang lalu saat hendak pulang ke Kupang setelah 5 tahun lamanya bekerja di luar negeri, sedangkan ayahnya karena merasa kehilangan menjadi stres hingga depresi  lalu jatuh sakit dan meninggal sebulan yang lalu. Suatu pukulan telak dalam hidup, sudah kekurangan perhatian ibunya, kini ayahnya lagi. Maunya dunia ini apasih?, terlalu sulitkah membahagiakan dirinya dari sisi keberadaan keluarga?. Setelah kepergian ayahnya,  Kego harus hidup mandiri, tapi karena masih diselimuti rasa kesepian akan kehilangan kedua orangtua, Kego memilih untuk berdiam di rumah saja, bila ingin membeli kebutuhan barulah ia pergi. Kego sangat suka menulis puisi, hampir semua tembok rumah dipajang puisi-puisi karyanya. Jemarinya selalu bekerja keras meladeni otak yang menyalurkan ide tulisan yang gila dan dalam sampai tak menghiraukan cairan tinta yang sudah mengotori  kertas-kertas termasuk jemarinya. Kalaupun sangat sepi, ia menjadikan puisi sebagai teman sekaligus tempat pelampiasan rasa kepedihan. Statusnya sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir tidak menjadi tuntutan lagi baginya. Sepi terlalu membunuh semua rasa semangat.

Tumbuh dan tinggal di lingkungan yang peduli sesama adalah suatu keberuntungan tersendiri di masa sekarang, di saat lingkungan lain memiliki penghuni yang individual dan apatis. Sudah sebulan pintu rumah Kego selalu diketuk oleh warga untuk memberi bantuan seperti beras, sayur, uang, hingga perlengkapan mandi. Awalnya Kego merasa biasa saja, dia sedikit terbantu. Tapi semakin hari bantuan yang diberikan berlebihan. Kego masih merasa mampu untuk menghidupi dirinya, namun perlakuan warga padanya seakan membuat dia merasa tidak bisa apa-apa. Dia tahu kalau maksud warga baik, namun terkesan berlebihan. Dia bisa mendapatkan uang dengan bekerja sebagai ojek, untuk sementara waktu dia masih bisa menghidupi dirinya sendiri, lagian tabungan orangtuanya masih cukup.

Baginya, memberi bantuan ala kadarnya saja, jangan berlebihan, hal itu bisa jadi zona nyaman yang mematikan. Memiliki pemikiran sedikit-sedikit harus dibantu tanpa mau berusaha sendiri, masih mampu tapi membuat seolah tak mampu adalah hal yang miris di dunia ini. Peduli dan kasihan itu beda tipis. Peduli itu memberi bantuan yang sesuai dan secukupnya, ingin sesuatu yang dibantu itu turut berkembang, tidak merugikan diri sendiri, sedangkan kasihan itu memberi bantuan apa saja, berfokus pada perasaan sedih namun tak memperhatikan perkembangan dari sesuatu yang dibantu, dan cenderung selalu mengorbankan diri sendiri. Ingat, beda tipis jangan sampai terjebak.

Hal kasihan ini yang terjadi. Baginya warga bukan peduli, tapi kasihan padanya. Terlepas dari permasalahan keluarga, kehidupannya yang sendiri dan sepi menjadi alasan warga selalu mengunjungi rumah untuk memberikan bantuan, bukan menanyakan kabar, atau paling tidak menanyakan perkembangan tugas akhirnya. Kego sudah berulang kali menolak segala bantuan,  tapi warga selalu memaksa, awalnya ia tak enak hati untuk menolak, tapi saat sudah menolak pun tetap saja tak diindahkan oleh warga. Pernah sekali dia mengejar Ibu Ria sampai dirumahnya untuk mengembalikan sayuran yang diberikan tapi Ibu Ria menolak lalu masuk kerumah dan mengunci pintu. Ah, apa yang salah dengan warga ini.

Kego tak mau hal itu terus terjadi padanya. Dia punya suatu ide untuk menyadarkan warga dengan pendekatan halus atas perlakuan yang keliru padanya selama ini. Seperti biasa, Jalan Bajawa masih sepi. Lampu teras setiap rumah kecuali rumah Kego, masih menyala padahal sinar matahari sudah menampakan batang hidung. Namun ternyata pagi itu ada yang tak biasa. Ada pemandangan berbeda di gang itu. Sebuah amplop berwarna cokelat terparkir manis di setiap teras rumah warga. Saat dibuka ternyata berisi surat puisi. Begini tulisnya                                   

Bekas  Rumah Duka

 

Kulitnya sudah keriput dan tua

Menunggu pujaan hati datang bersua

Namun yang datang bukan senyum tawa

Melainkan isi peti tak bernyawa

 

Sepi begitu menyiksa

Mencabik segala rongga-rongga asa

Berharap dapat membangun cinta di setiap masa

Hingga akhirnya dipanggil yang kuasa

Tanpa menegur penerus yang sudah lama mati rasa

 

Di rumah bekas duka

Ada seorang  pemuda yang terluka

 

Dia tinggal di dibawah atap yang sunyi

Dikelilingi ciptaan Tuhan yang baik hati

Terima kasih kepada setiap insan yang selalu memberi

 

Tapi nyatanya , semakin hari semakin sesak isi lemari penyimpanan

Berusaha  menampung segala keringat yang sudah bercucuran

Padahal tulang dan daging masih kuat berjalan

 

Iya! Tubuh ini masih mampu

Biarkanlah dia berusaha mencari tumpu

 

Sekali lagi terima kasih, cukup dulu rasa peduli dan kasihan

Karena memberi ruang kepada insan yang mau berusaha adalah suatu penghargaan

 

Dari pemuda yang tinggal di ujung jalan

Yang sudah bisa membedakan rasa peduli dan kasihan, Kego.

       

Setelah semua orang membaca puisi itu, ada yang hanya menarik napas, ada yang sedikit kesal, ada yang mengangguk kepala. Beberapa diantara mereka akhirnya sadar bahwa Kego adalah pribadi yang mau berusaha dan tak mau dikasihani. Mereka juga sadar akan perlakuan keliru selama ini, keliru akan makna peduli sesungguhnya, karena dengan memberikan suatu kenyamanan berlebihan sama seperti memberi racun. Seharusnya memberikan ruang untuk bertumbuh dan berkembang. Seseorang memang pernah berada di lubang terkelam, memberikan tangga lebih baik ketimbang memberikan pintu kemana saja.

Kali ini Jalan Bajawa kembali sepi, walaupun sudah memasuki jam-jam produktif, mungkin karena amplop cokelat tadi. Ada yang acuh pada isinya lalu melanjutkan kegiatan sehari, ada juga yang memilih berdiam di dalam rumah untuk introspeksi diri. Tidak semua, tapi ada. Itu sudah lebih dari cukup, intinya bisa tersampaikan. Urusan mengerti atau tidak , semuanya kembali pada pribadi masing-masing, harapnya tak ada lagi yang berlebihan, itu saja.

 Jam dinding sudah menunjukan pukul 09.00 wita, waktu yang tepat untuk pergi menyelesaikan tugas akhir di kampus. Sambil mengendarai motor, Kego keluar dari halaman rumahnya yang sempit lalu menegur setiap warga di gangnya, menegur setiap orang yang sudah menerima amplop cokelat, menegur setiap orang yang memberi secara berlebihan, menegur setiap orang yang mungkin sudah sadar. Meskipun ada beberapa warga yang hanya menjawab dari dalam rumah, yah tidak semua, itu sudah menciptakan perasaan lega didalam hati yang telah diutarakan. Mereka akhirnya menjadi warga yang peduli dan berlaku baik. Jalan Bajawa, sepimu terlalu luas untuk pribadi yang tak bisa mengukur jarak rindu pada generasi sebelumnya. 

Lengkara

                  Punya harapan, punya tujuan, ada di jalur yang tepat, sedikit melambat juga perlu sekadar menjadi valium untuk pereda kesa...